Android One Targetkan User Experience

Di negara maju, smartphone sudah ada di mana-mana. Tapi hal tersebut tidak terjadi di negara berkembang, di mana konsumen masih dalam masa transisi. Peluang pasar ini sering disebut sebagai “the next billion”, dan banyak perusahaan telah memprioritaskan usaha mereka untuk segmen tersebut. Firma riset IDC melaporkan bahwa di India, penjualan smartphone telah melonjak 186 persen hanya dalam setahun terakhir, dengan 78 persen penjualan berasal dari perangkat dengan harga di bawah $ 200.

Nokia telah membuat segmen tersebut sebagai bagian besar dari bisnis mereka selama bertahun-tahun, pertama dengan lini smartphone Asha, dan sekarang dengan Nokia X Android. Pemilik baru Nokia, Microsoft, juga telah mendorong platform Windows Phone dengan harga lebih rendah untuk menangkap peluang pertumbuhan yang cepat dari pasar negara berkembang. Mozilla melakukan hal yang sama dengan platform Firefox OS.



Android One Targetkan User Experience

Android telah populer di pasar negara berkembang untuk waktu yang lama, namun Google baru menyatakan minatnya secara eksplisit pada pasar ini saat diluncurkannya Android 4.4 KitKat tahun lalu. Pada peluncurannya musim gugur yang lalu, wakil presiden senior Google, Sundar Pichai, mengatakan: ” kami ingin melakukannya pada versi Android terbaru.” Dan sekarang, dengan Android One, menunjukkan Google bahwa visi Pichai mulai bergerak.

Android One, ‘Nexus’ Kelas Terjangkau

Android One adalah platform referensi – seperangkat aturan yang diikuti oleh produsen perangkat untuk membuat ponsel murah. Hal tersebut memberikan kemudahan bagi produsen untuk mengembangkan dan memproduksi perangkat, karena Google telah mencari tahu biaya bahan. Untuk Google, memastikan bahkan perangkat low-end dapat menjalankan software mereka dan menjalankannya dengan baik, memberikan semua orang dengan pengalaman yang sama. Dimana KitKat adalah upaya Google untuk mengatasi masalah software pada perangkat low-end, Android One melakukan hal yang sama untuk hardware. Perusahaan menyebutnya sebagai “solusi yang komprehensif untuk mengatasi kebutuhan komputasi mobile pasar negara berkembang”.

Perangkat Android One pertama akan diproduksi oleh produsen India pada musim gugur ini. Sebuah contoh perangkat yang Google tunjukkan minggu ini menampilkan layar 4,5 inci, dukungan untuk dua kartu SIM sekaligus (fitur yang penting bagi banyak pengguna di pasar berkembang), slot kartu SD, dan radio FM. Dikatakan kurang dari $ 100 dibutuhkan untuk produksi, jauh lebih kecil dari biaya smartphone yang banyak terjual di negara maju. Itu berarti handset Android One kemungkinan akan dijual seharga kurang dari $ 200, sangat bersaing dengan perangkat lain di pasar tersebut.

Google tidak hanya mengendalikan hardware dengan Android One, mereka juga memastikan perangkat dapat menjalankan versi terbaru dari Android dan tidak dibebani dengan penambahan software yang tidak perlu, yang bisa membahayakan kinerja dari berbagai keunggulan yang telah diberikan oleh KitKat. Ponsel Android One akan menjalankan OS Android standar, mendapatkan update otomatis, dan akses ke Google Play Store untuk aplikasi dan konten media.

Untuk Google, platform referensi hardware dan berbagai aturan software merupakan pergeseran besar dari bagaimana hal tersebut ditangani oleh Android di masa lalu. Program Nexus telah memberikan pengembang update dengan cepat dan sebuah pengalaman Android “murni”, namun perangkat tersebut belum pernah dipasarkan secara luas kepada konsumen. Program Edisi Google Play (GPE Edition) telah menawarkan software standar dengan lebih banyak pilihan hardware, tapi sejauh ini, kebanyakan ponsel GPE menjadi mahal. Dalam rangka membuat smartphone low-end bekerja sebaik yang high-end, Google menemukan bahwa mereka harus lebih ketat daripada Samsung atau HTC.

Meskipun KitKat mungkin mulai menunjukkan dampak, ponsel Android low-end yang ada di pasar berkembang masih sering berantakan. Banyak yang masih menjalankan versi usang dari Android dan tidak memiliki layanan lengkap dan aplikasi di Google Play Store. Menurut IDC, ponsel terlaris di India adalah Samsung Galaxy Star Pro dan Galaxy S Duos 2, yang memiliki resolusi kecil dan rendah serta menjalankan Android yang setidaknya dua generasi lebih tua. Pemimpin pasar lainnya di India, Micromax dan Karbonn, mencatat bahwa perangkat low-end sebagai produk teratas mereka dalam hal penjualan.

Tantangan terbesar Nokia, Microsoft, dan Mozilla di pasar berkembang adalah bagaimana mereka akan mengalahkan gempuran ponsel Android murah dari produsen Asia. Dalam kasus Nokia dan Microsoft, mereka bisa menunjukkan user experience yang lebih baik yang disediakan oleh perangkat mereka. Tapi dengan Android One, keuntungan mereka mungkin tidak akan bertahan lama, karena Google berkomitmen untuk menjaga pengalaman pengguna tetap konsisten.


Dapatkan artikel terbaru melalui Email secara GRATIS!

Cek kotak masuk dan klik link untuk aktivasi