Baterai Smartphone akan Memiliki Daya Tahan 4 Hari

Berkat status smartphone sebagai gadget serba guna seperti pisau Swiss Army, daya tahan baterai smartphone dengan cepat menjadi faktor nomor satu pengguna dalam melakukan pemilihan smartphone serta fitur-fitur yang terdapat dalam perangkat tersebut.

Sayangnya, teknologi baterai ternyata tidak berkembang pesat pada kecepatan yang sama bila dibandingkan dengan perkembangan komponen lainnya pada generasi – generasi terbaru dari smartphone. Hal tersebut menunjukkan, yang terjadi adalah daya tahan baterai smartphone malah menjadi relatif lebih pendek.



Daya Baterai SmartPhone

Namun, hal tersebut mungkin tidak akan terjadi terus menerus untuk waktu yang lama. Para peneliti di University of Stanford percaya bahwa mereka pada dasarnya telah menciptakan suatu baterai jenis baru yang bisa memberikan daya tahan yang dapat mencapai tiga kali lebih lama dibandingkan dengan baterai smartphone dan tablet yang umumnya ada saat ini dan telah menerbitkan temuan mereka dalam edisi terbaru jurnal ilmiah Nature.

Saat ini, satu-satunya cara untuk melipatgandakan daya tahan baterai sehingga dapat mencapai dua atau tiga kali dari daya tahan baterai biasa saat bepergian adalah dengan cara membawa dua baterai atau membawa baterai mandiri yang dapat menjadi sumber daya untuk melakukan pengisian ulang baterai ketika daya tahan hampir habis. Disamping itu dapat menggunakan aplikasi penghemat baterai.

Klaim Peneliti untuk Meningkatkan Daya Baterai Smartphone 4x Lipat

Tentu saja, sebagaimana daya tahan baterai smartphone adalah topik yang hangat untuk dibicarakan, laporan serupa tentang berbagai terobosan menjadi berita utama yang dengan teratur muncul di berbagai berita, tetapi apa yang membuat penemuan yang dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh Yi Cui Lab, seorang profesor di bidang Material Science and Engineering ini tergolong menarik. Penemuan kelompok ilmuwan ini mungkin telah memecahkan masalah yang merupakan inti dari baterai ion lithium yang ada.

Jika lithium dapat digunakan dengan baik pada elektrolit dan anoda dari sebuah sel, efisiensi sel memang akan meningkat secara signifikan. Namun, hingga kini, hal tersebut akan menciptakan baterai yang sangat tidak stabil. Lithium menyebar secara tak merata dan tak terduga. Hal tersebut dapat mengubah bentuk dan merusak baterai, menyebabkan panas, hubungan arus pendek, keretakan baterai dan kebocoran daya dengan sendirinya. Itulah sebabnya anoda baterai terbuat dari silikon atau grafit, yang memiliki perilaku yang lebih mudah diprediksi.

Namun, tim peneliti tersebut telah menemukan cara untuk menggunakan lithium pada kedua ujung sel dengan memagari anoda dengan lapisan model sarang lebah dengan menggunakan karbon nanosfir.

Dan sementara baterai baru tersebut memerlukan pengujian yang lebih lanjut, bila dapat dibuktikan kestabilannya dan dapat diproduksi massal dengan mudah, maka generasi smartphone, tablet dan bahkan mobil listrik berikutnya dapat mendapatkan daya tahan baterai antara 100 persen hingga 200 persen lebih besar dari baterai – baterai yang sekarang beredar dan umum digunakan.

Seperti yang dikatakan Steven Chu, mantan Menteri Energi AS dan Pemenang Nobel yang juga adalah bagian dari tim Yi Cui kepada Physics.org. Dalam istilah praktis, jika kita dapat meningkatkan kapasitas baterai, katakanlah, empat kali dari baterai smartphone yang beredar di masa kini, hal tersebut akan sangat luar biasa. Anda mungkin dapat memiliki ponsel dengan daya tahan dua atau tiga kali daya baterai sekarang atau mobil listrik dengan jangkauan 300 kilometer hanya dengan biaya $25 yang membuatnya cukup bersaing dengan konsumsi pembakaran internal mesin konvensional yang mencapai 64 kilometer per liter.

Cloud Tags


Dapatkan artikel terbaru melalui Email secara GRATIS!

Cek kotak masuk dan klik link untuk aktivasi